Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh, Selamat Datang di Blog-SITE "PIMPINAN ANAK CABANG GERAKAN ANSOR WATULIMO. Semoga Bermanfaat Untuk Kita Semua. Aamiin

Minggu, 02 April 2017

Ada apa dengan NU, HTI, dan Negara.

Posted by Unknown On Minggu, April 02, 2017

Longmarch dalam rangka show of force Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) serentak di berbagai kota di Jawa Timur menunjukkan organisasi anti Pancasila dan NKRI ini sudah merasa kuat dan siap berhadapan dengan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan yang getol membela NKRI.

Mereka sadar bahwa NU adalah penghalang utama atas misi mereka mendirikan Khilafah untuk mengganti sistem negara Indonesia menjadi negara Islam ala mereka. Meski jumlah mereka bisa dihitung dengan jari namun gerakan mereka militan, tidak pernah putus asa dengan mimpi-mimpinya.

Yang menjadi pertanyaan kenapa mereka berani melakukan unjuk kekuatan di Jawa Timur yang nota bene basis Nahdlatul Ulama? yah... bukan HTI jika tidak cerdik mendesain gerakan apapun untuk meraup simpati publik. Mereka tahu jika gerakannya akan dihadang minimal oleh Ansor dengan Bansernya, dari sini HTI akan memposisikan diri sebagai korban dari kezaliman NU, karena modal mereka adalah Ghozwul Fikri (perang pemikiran) maka dengan kejadian sweeping yang dilakukan Banser mereka akan membalik opini di masyarakat bahwa NU lah yang salah,diharapkan HTI akan mendapatkan dukungan lebih dari publik atau minimal akan mampu mendegradasi nama NU. Jika mereka berhasil mendegradasi NU Jatim,

Selain itu, HTI merasa percaya diri dengan  show of force nya karena dia merasa terlindungi oleh negara yang nota bene ingin dia gulingkan, aparat seakan menutup mata dengan perilaku HTI ini alias membiarkan NU menghadapi sendirian menghadang HTI.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya kenapa aparat keamanan negara membiarkan itu? Jawabnya, bisa saja 1)karena HTI belum dianggap sebagai ancaman serius karena aktifitas HTI masih sebatas wacana ideologi, 2)pemerintah ingin mengendalikan kekuatan sipil khususnya umat Islam yang berpotensi melawan kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat, sehingga membiarkan konsentrasi antar kekuatan dipecah dan sibuk gegeran sendiri,
3) Pemerintah khawatir akan dianggap melanggar HAM dan demokrasi (padahal HTI anti demokrasi lho...).
4) atau bisa jadi negara memang ingin cuci tangan dan tidak ingin diribetkan urusan dengan perusuh negara model HTI ini, maka negara memanfaatkan NU untuk menghadapi mereka, yang pada akhirnya negara juga yang menuai hasil tanpa kotor tangan. 

Dari analisa di atas, yang menarik untuk diungkap adalah bahwa dalam konteks beragama dan bernegara NU terbukti berhasil dan selalu konsisten menunjukkan konsep agama dan negara tidak saling menegasikan, bahkan spirit agama mampu diterjemahkan untuk mengisi anasir-anasir kebangsaan agar terwujud kehidupan umat yang damai dan beradab. Siapapun penghuni Indonesia diayomi selama tidak mengganggu ketentraman dan persatuan bangsa. Sebaliknya, barangsiapa yang mengancam NKRI pasti berhadapan dengan NU.

Meski NU sadar dalam perjalanan sejarah mengawal bangsa ini NU selalu diposisikan sebagai spesialis pemain di babak penyisihan dan semi final, dan saat final selalu tidak dilibatkan. Sehingga NU secara praktis seringkali tidak diikutkan dalam menikmati hasil perjuangannya. Hal ini bisa kita baca dalam sejarah proses yang melibatkan tokoh-tokoh NU dalam ikut merumuskan bentuk negara Indonesia baik di BPUPKI maupun PPKI, pasca perjuangan para santri dan ulama dengan resolusi jihadnya, perjuangan era 1965 an saat NU berada di garda terdepan menumpas PKI,ataupun saat reformasi, begitu besar peran NU namun selalu ditinggal dalam mengisi pos-pos strategi pemerintahan. Namun... Itu tidak masalah bagi NU, karena perjuangan NU lebih diorientasikan untuk kebaikan umat, tidak melulu mencari pamrih kekuasaan.

NU saat ini seakan sendirian mengawal keutuhan bangsa, sementara yang lain masih belum selesai dalam merumuskan hubungan agama dan negara, sementara beberapa organisasi keagamaan tidak peduli bahkan beberapa dari mereka bersikeras berusaha merubah ideologi Pancasila dan NKRI. Kenapa NU bersikap begitu? Jawabnya karena NU dengan mengimplementasikan nilai-nilai Islam Ahlussunnah waljamaah ikut berproses mendirikan bangsa Indonesia. Tanpa perjuangan para ulama dan santri bisa jadi Indonesia yang kita cintai ini tidak berdiri, kemerdekaan tidak tercapai.

Kenapa NU lebih memilih negara bangsa bukan kekhilafahan atau negara Islam?
Jawabnya karena NU menyadari bahwa bangsa Indonesia ini majemuk, tidak semua elemen setuju dengan konsep negara Islam. NU memandang bahwa NKRI dan Pancasila adalah pilihan terbaik dan termaslahah untuk keutuhan bangsa ini, dan terbuka kebebasan umat Islam dalam menjalankan ajarannya. Selain itu, dalam konteks dakwah, Islam lebih berpotensi besar membumikan nilai-nilai ajarannya di seluruh aspek kehidupan dan pelosok bangsa ini, daripada memaksakan mendirikan negara Islam yang berpotensi akan memecah belah bangsa ini sehingga pada akhirnya Islam tidak semakin membumi di Nusantara ini.

Akhirnya, marilah bersama Nahdlatul Ulama kita bumikan ajaran Islam rahmatan lil alamin dan jaga keutuhan bangsa ini.

(Oleh: Gus Qodir)

Sumber : FB Aktivis Muda NU

Tulungagung, 2 Maret 2017

1.  Apresiasi dan harapan besar kepada para peseta PKL Dosen akan ditunggu kiprahnya.

2.  Kenapa harus ikut PKL...? Seperti tidak ada kegiatan lain saja selain kaderisasi. Karena dari kegiatan inilah penanggulangan pengaruh radikalisme bisa teratasi. Di infokan bahwa data terakhir jumlah anggota Ansor Banser ada 1,7 juta. Data ini belum termasuk hari ini dan kemarin.

3.  Gus Yaqut saat bertemu Panglima TNI dan Kapolri, mereka pernah bertanya berapa jumlah Ansor, di jawab jumlahnya ada 1,7 juta. Mereka kaget. Segitu banyaknya makannya dari mana ? (Mungkin mereka menyamakan dengan anggota TNI / Polri yang gajinya telat dikit saja sudah banyak yang protes).

4. Setiap kali negara menghadapi masalah maka Ansor tampil didepan. Saat ini negara mengalami bahaya. Seperti aksi pagi tadi, acara HTI di Surabaya sudah berhasil dibubarkan. Gus Yaqut barusan dapat telpon dari Polda Jatim. Kemudian Kapolda ditanya,  Yg membarkan siapa...? Dengan nada lirih menjawab. Yang membubarkan Banser.

5. Ancaman terdekat negara Indonesia adalah liberalisme - neobliberalisme dan Radikalisme. Dan kita berada ditengah². Dalam posisi ditengah ini kita tidak punya tools (alat). Ini yang menjadi sulit. Tetapi kita punya kenyakinan:

Pertama;
Menurut Gus Yakut, NU didirikan untuk Indonesia dan bukan hanya Aswaja. Kalau hanya menjaga aswaja saja KH. Wahab dan KH.Hasyim Asy'ari tidak perlu repot² mendirikan Jamiyyah. Karena kalau sekedar aswaja saja cukup digarap dipesantren-pesantren. NU didirikan untuk Indonesia.

Jadi, jika kita membubarkan HTI dll (no Pancasila) tidak perlu mencari alasan. Alasannya sudah jelas. Kita ini menjaga warisan Ulama Kita. Kalau HTI mengatakan Indonesia adalah negara Toghut berarti mereka telah menghina Ulama kita. Tidak mungkin para Ulama dulu membentuk Indonesia tanpa dasar keagamaan. Indonesia dengan Pancasila dan UUD 1945 ini sudah sangat Islami. Jika sahabat² mengatakan/ mempertanyakan bahwa Indonesia itu negara Toghut itu sama halnya sahabat² mengatakan/ meragukan Ulama-ulama kita dahulu.

Kemudian Qus Yaqut juga menyoroti Habib Riziq. Orang yang tidak punya guru berarti tidak punya sanat keilmuan yang jelas. Coba sekarang siapa yang tahu gurunya Riziq shihab itu siapa? Tidak jelas gurunya. Berarti dia gurunya setan. Saya bisa membuktikan soal ini. Video yang beredar di youtube dia mendoakan orang lain sesat. Semoga sesat dst. Ini kan sama dengan pekerjaan setan yang mendorong dan mengajak kejalan yang sesat. Coba kalau Ulama yang baik, doanya pasti tidak begitu. Kalau misalnya ada orang yang berada dijalan sesat pasti didoakan semoga bisa keluar dari kesesatannya.

6. Tantangan Ansor utamanya yang ada dikota-kota. Kita diserang dengan Jargon "FPI membubarkan kemaksiatan dan Ansor membubarkan Pengajian". Bagi kalangan yang tidak paham soal ini maka akan mudah digiring untuk membenarkan jargon tersebut. Ujungnya menyalahkan tindakan Ansor dan membenarkan tindakan FPI.

7. Ada hasil penelitian dijawa tengah: Obyeknya dari kalangan anak-anak SMA. Saat ditanya siapa idolanya ulama anda? Mereka menyebut nama Habib Riziq Shihab dan Bakhtiar Nasir.Padahal dijawa Tengah kan banyak Ulama besar tetapi tidak kelihatan dimata mereka. Ini sangat ironis.

Tanya jawab.

Pertanyaan.
1. Bagaimana menyikapi gerakan FPI utamanya diarus bawah. Padahal FPI juga sama² aswaja..?
2. Dalam menangani radikalisme, bagaimana Langkah pemerintah...?

Jawaban.
1. Seringkali FPI yang dalam beberapa kesempatan selalu mengatakan bagian dari NU. Tetapi coba perhatikan pernahkah FPI melaksakan Haul Ulama. Mereka jika mengatakan bagian dari NU tetapi tidak pernah melakukan seperti amaliyahnya orang NU.

Untuk menanganinya kita harus selalu mendekat dengan jamaah. Kyai² kita banyak yang kendor semangatnya. Ambil contoh seorang Kyai Takziah ditetangga yang meninggal ini tidak semuanya mau bersegera.

Kader Kyai besar hari ini krisis. Untuk mencetak sosok seperti Mbah Maimun dll mengalami kendala.
Persoalannya bagaimana kita mau mencetak kader Kyai  besar seperti beliu²...? Pondok pesantren sekarang kurikulumnya sudah mengikuti kurikulum pendidikan Umum. Di Pesantren sekarang sudah belajar matematika bahasa Inggris dll. Kalau pesantren yang seperti dul, Ilmunya murni salaf. Ini problem pendidikan pesantren sekarang. Kalau tidak mau memasukkan kurikulum umum lulusannya tidak diakui pemerintah. Padahal seharusnya pendidikan formal dan pesantren itu diposisikan sama.

2. Pemerintah tidak melakukan apa-apa. Saat saya berdiskusi dengan Kapolri membahas soal ini pihak pemerintah terkendala dengan undang-undang. UU kita tidak bisa menyentuh mereka. Selama ini tindakan mereka (HTI dll) masih dalam tataran wacana pemikiran. Belum ada tindakan praktis memberontak dan angkat senjata. Jadi belum bisa dikatakan makar. Undang²  kita menyebut yang namanya makar itu berbentuk fisik, action, angkat senjata.
Jadi jika mereka tertangkap tuduhan makar paling-paling pasal yang digunakan cuma pasal tindakan tidak menyenangkan atau ujaran kebencian. Dan ini jika dihukum hanya kurungan penjara sekitar 3-4 bulan saja.

Pada waktu Gus Tutut menduduki komisi bidang perundangan, fraksinya pernah mengusulkan pembuatan undang-undang terorisme. Tetapi reaksi fraksi yang lain banyak yang menolak karena undang-undang ini bisa dijadikan undang² karet yang bisa disalah gunakan.

Program gerakan deradikalisasi yang pernah berjalan, Juga tidak tepat sasaran. Masak deradikalisasi di pondok pesantren NU. Tidak mungkin pesantren NU akan jadi radikal. Coba sosialisasi Deradikalisasi di Ngruki  tempatnya Abu Bakar Ba'asyir. Seharusnya model pesantren seperti itu dijadikan tempat program Deradikalisasi. Tetapi selama ini tidak pernah dilakukan. Sehingga kesan program hanya untuk menghabiskan anggaran saja.

Kontributor : Sahabat Imron Sholih

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.S. Luqman: 34)

Masehi Hijriyah