Tulungagung, 2 Maret 2017
1. Apresiasi dan harapan besar kepada para peseta PKL Dosen akan ditunggu kiprahnya.
2. Kenapa harus ikut PKL...? Seperti tidak ada kegiatan lain saja selain kaderisasi. Karena dari kegiatan inilah penanggulangan pengaruh radikalisme bisa teratasi. Di infokan bahwa data terakhir jumlah anggota Ansor Banser ada 1,7 juta. Data ini belum termasuk hari ini dan kemarin.
3. Gus Yaqut saat bertemu Panglima TNI dan Kapolri, mereka pernah bertanya berapa jumlah Ansor, di jawab jumlahnya ada 1,7 juta. Mereka kaget. Segitu banyaknya makannya dari mana ? (Mungkin mereka menyamakan dengan anggota TNI / Polri yang gajinya telat dikit saja sudah banyak yang protes).
4. Setiap kali negara menghadapi masalah maka Ansor tampil didepan. Saat ini negara mengalami bahaya. Seperti aksi pagi tadi, acara HTI di Surabaya sudah berhasil dibubarkan. Gus Yaqut barusan dapat telpon dari Polda Jatim. Kemudian Kapolda ditanya, Yg membarkan siapa...? Dengan nada lirih menjawab. Yang membubarkan Banser.
5. Ancaman terdekat negara Indonesia adalah liberalisme - neobliberalisme dan Radikalisme. Dan kita berada ditengah². Dalam posisi ditengah ini kita tidak punya tools (alat). Ini yang menjadi sulit. Tetapi kita punya kenyakinan:
Pertama;
Menurut Gus Yakut, NU didirikan untuk Indonesia dan bukan hanya Aswaja. Kalau hanya menjaga aswaja saja KH. Wahab dan KH.Hasyim Asy'ari tidak perlu repot² mendirikan Jamiyyah. Karena kalau sekedar aswaja saja cukup digarap dipesantren-pesantren. NU didirikan untuk Indonesia.
Jadi, jika kita membubarkan HTI dll (no Pancasila) tidak perlu mencari alasan. Alasannya sudah jelas. Kita ini menjaga warisan Ulama Kita. Kalau HTI mengatakan Indonesia adalah negara Toghut berarti mereka telah menghina Ulama kita. Tidak mungkin para Ulama dulu membentuk Indonesia tanpa dasar keagamaan. Indonesia dengan Pancasila dan UUD 1945 ini sudah sangat Islami. Jika sahabat² mengatakan/ mempertanyakan bahwa Indonesia itu negara Toghut itu sama halnya sahabat² mengatakan/ meragukan Ulama-ulama kita dahulu.
Kemudian Qus Yaqut juga menyoroti Habib Riziq. Orang yang tidak punya guru berarti tidak punya sanat keilmuan yang jelas. Coba sekarang siapa yang tahu gurunya Riziq shihab itu siapa? Tidak jelas gurunya. Berarti dia gurunya setan. Saya bisa membuktikan soal ini. Video yang beredar di youtube dia mendoakan orang lain sesat. Semoga sesat dst. Ini kan sama dengan pekerjaan setan yang mendorong dan mengajak kejalan yang sesat. Coba kalau Ulama yang baik, doanya pasti tidak begitu. Kalau misalnya ada orang yang berada dijalan sesat pasti didoakan semoga bisa keluar dari kesesatannya.
6. Tantangan Ansor utamanya yang ada dikota-kota. Kita diserang dengan Jargon "FPI membubarkan kemaksiatan dan Ansor membubarkan Pengajian". Bagi kalangan yang tidak paham soal ini maka akan mudah digiring untuk membenarkan jargon tersebut. Ujungnya menyalahkan tindakan Ansor dan membenarkan tindakan FPI.
7. Ada hasil penelitian dijawa tengah: Obyeknya dari kalangan anak-anak SMA. Saat ditanya siapa idolanya ulama anda? Mereka menyebut nama Habib Riziq Shihab dan Bakhtiar Nasir.Padahal dijawa Tengah kan banyak Ulama besar tetapi tidak kelihatan dimata mereka. Ini sangat ironis.
Tanya jawab.
Pertanyaan.
1. Bagaimana menyikapi gerakan FPI utamanya diarus bawah. Padahal FPI juga sama² aswaja..?
2. Dalam menangani radikalisme, bagaimana Langkah pemerintah...?
Jawaban.
1. Seringkali FPI yang dalam beberapa kesempatan selalu mengatakan bagian dari NU. Tetapi coba perhatikan pernahkah FPI melaksakan Haul Ulama. Mereka jika mengatakan bagian dari NU tetapi tidak pernah melakukan seperti amaliyahnya orang NU.
Untuk menanganinya kita harus selalu mendekat dengan jamaah. Kyai² kita banyak yang kendor semangatnya. Ambil contoh seorang Kyai Takziah ditetangga yang meninggal ini tidak semuanya mau bersegera.
Kader Kyai besar hari ini krisis. Untuk mencetak sosok seperti Mbah Maimun dll mengalami kendala.
Persoalannya bagaimana kita mau mencetak kader Kyai besar seperti beliu²...? Pondok pesantren sekarang kurikulumnya sudah mengikuti kurikulum pendidikan Umum. Di Pesantren sekarang sudah belajar matematika bahasa Inggris dll. Kalau pesantren yang seperti dul, Ilmunya murni salaf. Ini problem pendidikan pesantren sekarang. Kalau tidak mau memasukkan kurikulum umum lulusannya tidak diakui pemerintah. Padahal seharusnya pendidikan formal dan pesantren itu diposisikan sama.
2. Pemerintah tidak melakukan apa-apa. Saat saya berdiskusi dengan Kapolri membahas soal ini pihak pemerintah terkendala dengan undang-undang. UU kita tidak bisa menyentuh mereka. Selama ini tindakan mereka (HTI dll) masih dalam tataran wacana pemikiran. Belum ada tindakan praktis memberontak dan angkat senjata. Jadi belum bisa dikatakan makar. Undang² kita menyebut yang namanya makar itu berbentuk fisik, action, angkat senjata.
Jadi jika mereka tertangkap tuduhan makar paling-paling pasal yang digunakan cuma pasal tindakan tidak menyenangkan atau ujaran kebencian. Dan ini jika dihukum hanya kurungan penjara sekitar 3-4 bulan saja.
Pada waktu Gus Tutut menduduki komisi bidang perundangan, fraksinya pernah mengusulkan pembuatan undang-undang terorisme. Tetapi reaksi fraksi yang lain banyak yang menolak karena undang-undang ini bisa dijadikan undang² karet yang bisa disalah gunakan.
Program gerakan deradikalisasi yang pernah berjalan, Juga tidak tepat sasaran. Masak deradikalisasi di pondok pesantren NU. Tidak mungkin pesantren NU akan jadi radikal. Coba sosialisasi Deradikalisasi di Ngruki tempatnya Abu Bakar Ba'asyir. Seharusnya model pesantren seperti itu dijadikan tempat program Deradikalisasi. Tetapi selama ini tidak pernah dilakukan. Sehingga kesan program hanya untuk menghabiskan anggaran saja.
Kontributor : Sahabat Imron Sholih
