Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh, Selamat Datang di Blog-SITE "PIMPINAN ANAK CABANG GERAKAN ANSOR WATULIMO. Semoga Bermanfaat Untuk Kita Semua. Aamiin

Minggu, 02 April 2017

Ada apa dengan NU, HTI, dan Negara.

Posted by Unknown On Minggu, April 02, 2017

Longmarch dalam rangka show of force Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) serentak di berbagai kota di Jawa Timur menunjukkan organisasi anti Pancasila dan NKRI ini sudah merasa kuat dan siap berhadapan dengan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan yang getol membela NKRI.

Mereka sadar bahwa NU adalah penghalang utama atas misi mereka mendirikan Khilafah untuk mengganti sistem negara Indonesia menjadi negara Islam ala mereka. Meski jumlah mereka bisa dihitung dengan jari namun gerakan mereka militan, tidak pernah putus asa dengan mimpi-mimpinya.

Yang menjadi pertanyaan kenapa mereka berani melakukan unjuk kekuatan di Jawa Timur yang nota bene basis Nahdlatul Ulama? yah... bukan HTI jika tidak cerdik mendesain gerakan apapun untuk meraup simpati publik. Mereka tahu jika gerakannya akan dihadang minimal oleh Ansor dengan Bansernya, dari sini HTI akan memposisikan diri sebagai korban dari kezaliman NU, karena modal mereka adalah Ghozwul Fikri (perang pemikiran) maka dengan kejadian sweeping yang dilakukan Banser mereka akan membalik opini di masyarakat bahwa NU lah yang salah,diharapkan HTI akan mendapatkan dukungan lebih dari publik atau minimal akan mampu mendegradasi nama NU. Jika mereka berhasil mendegradasi NU Jatim,

Selain itu, HTI merasa percaya diri dengan  show of force nya karena dia merasa terlindungi oleh negara yang nota bene ingin dia gulingkan, aparat seakan menutup mata dengan perilaku HTI ini alias membiarkan NU menghadapi sendirian menghadang HTI.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya kenapa aparat keamanan negara membiarkan itu? Jawabnya, bisa saja 1)karena HTI belum dianggap sebagai ancaman serius karena aktifitas HTI masih sebatas wacana ideologi, 2)pemerintah ingin mengendalikan kekuatan sipil khususnya umat Islam yang berpotensi melawan kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat, sehingga membiarkan konsentrasi antar kekuatan dipecah dan sibuk gegeran sendiri,
3) Pemerintah khawatir akan dianggap melanggar HAM dan demokrasi (padahal HTI anti demokrasi lho...).
4) atau bisa jadi negara memang ingin cuci tangan dan tidak ingin diribetkan urusan dengan perusuh negara model HTI ini, maka negara memanfaatkan NU untuk menghadapi mereka, yang pada akhirnya negara juga yang menuai hasil tanpa kotor tangan. 

Dari analisa di atas, yang menarik untuk diungkap adalah bahwa dalam konteks beragama dan bernegara NU terbukti berhasil dan selalu konsisten menunjukkan konsep agama dan negara tidak saling menegasikan, bahkan spirit agama mampu diterjemahkan untuk mengisi anasir-anasir kebangsaan agar terwujud kehidupan umat yang damai dan beradab. Siapapun penghuni Indonesia diayomi selama tidak mengganggu ketentraman dan persatuan bangsa. Sebaliknya, barangsiapa yang mengancam NKRI pasti berhadapan dengan NU.

Meski NU sadar dalam perjalanan sejarah mengawal bangsa ini NU selalu diposisikan sebagai spesialis pemain di babak penyisihan dan semi final, dan saat final selalu tidak dilibatkan. Sehingga NU secara praktis seringkali tidak diikutkan dalam menikmati hasil perjuangannya. Hal ini bisa kita baca dalam sejarah proses yang melibatkan tokoh-tokoh NU dalam ikut merumuskan bentuk negara Indonesia baik di BPUPKI maupun PPKI, pasca perjuangan para santri dan ulama dengan resolusi jihadnya, perjuangan era 1965 an saat NU berada di garda terdepan menumpas PKI,ataupun saat reformasi, begitu besar peran NU namun selalu ditinggal dalam mengisi pos-pos strategi pemerintahan. Namun... Itu tidak masalah bagi NU, karena perjuangan NU lebih diorientasikan untuk kebaikan umat, tidak melulu mencari pamrih kekuasaan.

NU saat ini seakan sendirian mengawal keutuhan bangsa, sementara yang lain masih belum selesai dalam merumuskan hubungan agama dan negara, sementara beberapa organisasi keagamaan tidak peduli bahkan beberapa dari mereka bersikeras berusaha merubah ideologi Pancasila dan NKRI. Kenapa NU bersikap begitu? Jawabnya karena NU dengan mengimplementasikan nilai-nilai Islam Ahlussunnah waljamaah ikut berproses mendirikan bangsa Indonesia. Tanpa perjuangan para ulama dan santri bisa jadi Indonesia yang kita cintai ini tidak berdiri, kemerdekaan tidak tercapai.

Kenapa NU lebih memilih negara bangsa bukan kekhilafahan atau negara Islam?
Jawabnya karena NU menyadari bahwa bangsa Indonesia ini majemuk, tidak semua elemen setuju dengan konsep negara Islam. NU memandang bahwa NKRI dan Pancasila adalah pilihan terbaik dan termaslahah untuk keutuhan bangsa ini, dan terbuka kebebasan umat Islam dalam menjalankan ajarannya. Selain itu, dalam konteks dakwah, Islam lebih berpotensi besar membumikan nilai-nilai ajarannya di seluruh aspek kehidupan dan pelosok bangsa ini, daripada memaksakan mendirikan negara Islam yang berpotensi akan memecah belah bangsa ini sehingga pada akhirnya Islam tidak semakin membumi di Nusantara ini.

Akhirnya, marilah bersama Nahdlatul Ulama kita bumikan ajaran Islam rahmatan lil alamin dan jaga keutuhan bangsa ini.

(Oleh: Gus Qodir)

Sumber : FB Aktivis Muda NU

Tulungagung, 2 Maret 2017

1.  Apresiasi dan harapan besar kepada para peseta PKL Dosen akan ditunggu kiprahnya.

2.  Kenapa harus ikut PKL...? Seperti tidak ada kegiatan lain saja selain kaderisasi. Karena dari kegiatan inilah penanggulangan pengaruh radikalisme bisa teratasi. Di infokan bahwa data terakhir jumlah anggota Ansor Banser ada 1,7 juta. Data ini belum termasuk hari ini dan kemarin.

3.  Gus Yaqut saat bertemu Panglima TNI dan Kapolri, mereka pernah bertanya berapa jumlah Ansor, di jawab jumlahnya ada 1,7 juta. Mereka kaget. Segitu banyaknya makannya dari mana ? (Mungkin mereka menyamakan dengan anggota TNI / Polri yang gajinya telat dikit saja sudah banyak yang protes).

4. Setiap kali negara menghadapi masalah maka Ansor tampil didepan. Saat ini negara mengalami bahaya. Seperti aksi pagi tadi, acara HTI di Surabaya sudah berhasil dibubarkan. Gus Yaqut barusan dapat telpon dari Polda Jatim. Kemudian Kapolda ditanya,  Yg membarkan siapa...? Dengan nada lirih menjawab. Yang membubarkan Banser.

5. Ancaman terdekat negara Indonesia adalah liberalisme - neobliberalisme dan Radikalisme. Dan kita berada ditengah². Dalam posisi ditengah ini kita tidak punya tools (alat). Ini yang menjadi sulit. Tetapi kita punya kenyakinan:

Pertama;
Menurut Gus Yakut, NU didirikan untuk Indonesia dan bukan hanya Aswaja. Kalau hanya menjaga aswaja saja KH. Wahab dan KH.Hasyim Asy'ari tidak perlu repot² mendirikan Jamiyyah. Karena kalau sekedar aswaja saja cukup digarap dipesantren-pesantren. NU didirikan untuk Indonesia.

Jadi, jika kita membubarkan HTI dll (no Pancasila) tidak perlu mencari alasan. Alasannya sudah jelas. Kita ini menjaga warisan Ulama Kita. Kalau HTI mengatakan Indonesia adalah negara Toghut berarti mereka telah menghina Ulama kita. Tidak mungkin para Ulama dulu membentuk Indonesia tanpa dasar keagamaan. Indonesia dengan Pancasila dan UUD 1945 ini sudah sangat Islami. Jika sahabat² mengatakan/ mempertanyakan bahwa Indonesia itu negara Toghut itu sama halnya sahabat² mengatakan/ meragukan Ulama-ulama kita dahulu.

Kemudian Qus Yaqut juga menyoroti Habib Riziq. Orang yang tidak punya guru berarti tidak punya sanat keilmuan yang jelas. Coba sekarang siapa yang tahu gurunya Riziq shihab itu siapa? Tidak jelas gurunya. Berarti dia gurunya setan. Saya bisa membuktikan soal ini. Video yang beredar di youtube dia mendoakan orang lain sesat. Semoga sesat dst. Ini kan sama dengan pekerjaan setan yang mendorong dan mengajak kejalan yang sesat. Coba kalau Ulama yang baik, doanya pasti tidak begitu. Kalau misalnya ada orang yang berada dijalan sesat pasti didoakan semoga bisa keluar dari kesesatannya.

6. Tantangan Ansor utamanya yang ada dikota-kota. Kita diserang dengan Jargon "FPI membubarkan kemaksiatan dan Ansor membubarkan Pengajian". Bagi kalangan yang tidak paham soal ini maka akan mudah digiring untuk membenarkan jargon tersebut. Ujungnya menyalahkan tindakan Ansor dan membenarkan tindakan FPI.

7. Ada hasil penelitian dijawa tengah: Obyeknya dari kalangan anak-anak SMA. Saat ditanya siapa idolanya ulama anda? Mereka menyebut nama Habib Riziq Shihab dan Bakhtiar Nasir.Padahal dijawa Tengah kan banyak Ulama besar tetapi tidak kelihatan dimata mereka. Ini sangat ironis.

Tanya jawab.

Pertanyaan.
1. Bagaimana menyikapi gerakan FPI utamanya diarus bawah. Padahal FPI juga sama² aswaja..?
2. Dalam menangani radikalisme, bagaimana Langkah pemerintah...?

Jawaban.
1. Seringkali FPI yang dalam beberapa kesempatan selalu mengatakan bagian dari NU. Tetapi coba perhatikan pernahkah FPI melaksakan Haul Ulama. Mereka jika mengatakan bagian dari NU tetapi tidak pernah melakukan seperti amaliyahnya orang NU.

Untuk menanganinya kita harus selalu mendekat dengan jamaah. Kyai² kita banyak yang kendor semangatnya. Ambil contoh seorang Kyai Takziah ditetangga yang meninggal ini tidak semuanya mau bersegera.

Kader Kyai besar hari ini krisis. Untuk mencetak sosok seperti Mbah Maimun dll mengalami kendala.
Persoalannya bagaimana kita mau mencetak kader Kyai  besar seperti beliu²...? Pondok pesantren sekarang kurikulumnya sudah mengikuti kurikulum pendidikan Umum. Di Pesantren sekarang sudah belajar matematika bahasa Inggris dll. Kalau pesantren yang seperti dul, Ilmunya murni salaf. Ini problem pendidikan pesantren sekarang. Kalau tidak mau memasukkan kurikulum umum lulusannya tidak diakui pemerintah. Padahal seharusnya pendidikan formal dan pesantren itu diposisikan sama.

2. Pemerintah tidak melakukan apa-apa. Saat saya berdiskusi dengan Kapolri membahas soal ini pihak pemerintah terkendala dengan undang-undang. UU kita tidak bisa menyentuh mereka. Selama ini tindakan mereka (HTI dll) masih dalam tataran wacana pemikiran. Belum ada tindakan praktis memberontak dan angkat senjata. Jadi belum bisa dikatakan makar. Undang²  kita menyebut yang namanya makar itu berbentuk fisik, action, angkat senjata.
Jadi jika mereka tertangkap tuduhan makar paling-paling pasal yang digunakan cuma pasal tindakan tidak menyenangkan atau ujaran kebencian. Dan ini jika dihukum hanya kurungan penjara sekitar 3-4 bulan saja.

Pada waktu Gus Tutut menduduki komisi bidang perundangan, fraksinya pernah mengusulkan pembuatan undang-undang terorisme. Tetapi reaksi fraksi yang lain banyak yang menolak karena undang-undang ini bisa dijadikan undang² karet yang bisa disalah gunakan.

Program gerakan deradikalisasi yang pernah berjalan, Juga tidak tepat sasaran. Masak deradikalisasi di pondok pesantren NU. Tidak mungkin pesantren NU akan jadi radikal. Coba sosialisasi Deradikalisasi di Ngruki  tempatnya Abu Bakar Ba'asyir. Seharusnya model pesantren seperti itu dijadikan tempat program Deradikalisasi. Tetapi selama ini tidak pernah dilakukan. Sehingga kesan program hanya untuk menghabiskan anggaran saja.

Kontributor : Sahabat Imron Sholih

Sabtu, 01 April 2017

Ada apa dengan NU, HTI, dan Negara.

Posted by Unknown On Sabtu, April 01, 2017

Longmarch dalam rangka show of force Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) serentak di berbagai kota di Jawa Timur menunjukkan organisasi anti Pancasila dan NKRI ini sudah merasa kuat dan siap berhadapan dengan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan yang getol membela NKRI.

Mereka sadar bahwa NU adalah penghalang utama atas misi mereka mendirikan Khilafah untuk mengganti sistem negara Indonesia menjadi negara Islam ala mereka. Meski jumlah mereka bisa dihitung dengan jari namun gerakan mereka militan, tidak pernah putus asa dengan mimpi-mimpinya.

Yang menjadi pertanyaan kenapa mereka berani melakukan unjuk kekuatan di Jawa Timur yang nota bene basis Nahdlatul Ulama? yah... bukan HTI jika tidak cerdik mendesain gerakan apapun untuk meraup simpati publik. Mereka tahu jika gerakannya akan dihadang minimal oleh Ansor dengan Bansernya, dari sini HTI akan memposisikan diri sebagai korban dari kezaliman NU, karena modal mereka adalah Ghozwul Fikri (perang pemikiran) maka dengan kejadian sweeping yang dilakukan Banser mereka akan membalik opini di masyarakat bahwa NU lah yang salah,diharapkan HTI akan mendapatkan dukungan lebih dari publik atau minimal akan mampu mendegradasi nama NU. Jika mereka berhasil mendegradasi NU Jatim,

Selain itu, HTI merasa percaya diri dengan  show of force nya karena dia merasa terlindungi oleh negara yang nota bene ingin dia gulingkan, aparat seakan menutup mata dengan perilaku HTI ini alias membiarkan NU menghadapi sendirian menghadang HTI.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya kenapa aparat keamanan negara membiarkan itu? Jawabnya, bisa saja 1)karena HTI belum dianggap sebagai ancaman serius karena aktifitas HTI masih sebatas wacana ideologi, 2)pemerintah ingin mengendalikan kekuatan sipil khususnya umat Islam yang berpotensi melawan kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat, sehingga membiarkan konsentrasi antar kekuatan dipecah dan sibuk gegeran sendiri,
3) Pemerintah khawatir akan dianggap melanggar HAM dan demokrasi (padahal HTI anti demokrasi lho...).
4) atau bisa jadi negara memang ingin cuci tangan dan tidak ingin diribetkan urusan dengan perusuh negara model HTI ini, maka negara memanfaatkan NU untuk menghadapi mereka, yang pada akhirnya negara juga yang menuai hasil tanpa kotor tangan. 

Dari analisa di atas, yang menarik untuk diungkap adalah bahwa dalam konteks beragama dan bernegara NU terbukti berhasil dan selalu konsisten menunjukkan konsep agama dan negara tidak saling menegasikan, bahkan spirit agama mampu diterjemahkan untuk mengisi anasir-anasir kebangsaan agar terwujud kehidupan umat yang damai dan beradab. Siapapun penghuni Indonesia diayomi selama tidak mengganggu ketentraman dan persatuan bangsa. Sebaliknya, barangsiapa yang mengancam NKRI pasti berhadapan dengan NU.

Meski NU sadar dalam perjalanan sejarah mengawal bangsa ini NU selalu diposisikan sebagai spesialis pemain di babak penyisihan dan semi final, dan saat final selalu tidak dilibatkan. Sehingga NU secara praktis seringkali tidak diikutkan dalam menikmati hasil perjuangannya. Hal ini bisa kita baca dalam sejarah proses yang melibatkan tokoh-tokoh NU dalam ikut merumuskan bentuk negara Indonesia baik di BPUPKI maupun PPKI, pasca perjuangan para santri dan ulama dengan resolusi jihadnya, perjuangan era 1965 an saat NU berada di garda terdepan menumpas PKI,ataupun saat reformasi, begitu besar peran NU namun selalu ditinggal dalam mengisi pos-pos strategi pemerintahan. Namun... Itu tidak masalah bagi NU, karena perjuangan NU lebih diorientasikan untuk kebaikan umat, tidak melulu mencari pamrih kekuasaan.

NU saat ini seakan sendirian mengawal keutuhan bangsa, sementara yang lain masih belum selesai dalam merumuskan hubungan agama dan negara, sementara beberapa organisasi keagamaan tidak peduli bahkan beberapa dari mereka bersikeras berusaha merubah ideologi Pancasila dan NKRI. Kenapa NU bersikap begitu? Jawabnya karena NU dengan mengimplementasikan nilai-nilai Islam Ahlussunnah waljamaah ikut berproses mendirikan bangsa Indonesia. Tanpa perjuangan para ulama dan santri bisa jadi Indonesia yang kita cintai ini tidak berdiri, kemerdekaan tidak tercapai.

Kenapa NU lebih memilih negara bangsa bukan kekhilafahan atau negara Islam?
Jawabnya karena NU menyadari bahwa bangsa Indonesia ini majemuk, tidak semua elemen setuju dengan konsep negara Islam. NU memandang bahwa NKRI dan Pancasila adalah pilihan terbaik dan termaslahah untuk keutuhan bangsa ini, dan terbuka kebebasan umat Islam dalam menjalankan ajarannya. Selain itu, dalam konteks dakwah, Islam lebih berpotensi besar membumikan nilai-nilai ajarannya di seluruh aspek kehidupan dan pelosok bangsa ini, daripada memaksakan mendirikan negara Islam yang berpotensi akan memecah belah bangsa ini sehingga pada akhirnya Islam tidak semakin membumi di Nusantara ini.

Akhirnya, marilah bersama Nahdlatul Ulama kita bumikan ajaran Islam rahmatan lil alamin dan jaga keutuhan bangsa ini.

(coretan di sela-sela pkl dosen muda ansor,iain tulung agung)

(Fathul Qodier)

Dikutip dari : FB Moh. Safrudin

Jumat, 31 Maret 2017

Banser NU Bubarkan Konvoi Hizbut Tahrir Indonesia

Posted by Unknown On Jumat, Maret 31, 2017

TEMPO.CO, Tulungagung - Anggota Barisan Ansor Serba Guna (#Banser) Nahdlatul Ulama menghadang ratusan aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (#HTI) yang tengah melakukan pawai. Mereka menurunkan paksa bendera khalifah yang dibawa anggota HTI hingga nyaris terjadi keributan.

Penghadangan ini dilakukan anggota Banser Tulungagung dan Trenggalek di perbatasan kedua wilayah pagi tadi. Mereka menghentikan iring-iringan anggota HTI yang sedang melakukan taaruf atau pawai menuju Surabaya. "Kami hentikan dan rampas bendera yang mengarah pada spirit khalifah," kata Yoyok Mubarok, Ketua Satuan Koordinator Cabang Banser Tulungagung, yang memimpin aksi, Sabtu, 1 April 2017.

Masih menurut Yoyok, terdapat sedikitnya seratus anggota HTI yang mengendarai motor dan satu mobil bak terbuka yang melaju beriringan dari Trenggalek menuju Tulungagung. Rencananya mereka akan mengikuti kirab HTI bertema "Khilafah Kewajiban Syariat" di Surabaya, Minggu, 2 April 2017. Tak hanya dari Trenggalek, anggota HTI ini menggalang kader mereka di Tulungagung dan tiap-tiap kota yang dilalui menuju Surabaya.

Selain menghentikan dan merampas bendera HTI, anggota Banser membubarkan konvoi mereka dengan paksa. Anggota HTI diminta pulang ke rumah masing-masing dan tak melanjutkan perjalanan demi keselamatan mereka sendiri. "Kami minta pulang untuk anggota HTI dari Tulungagung, yang rumahnya Trenggalek kami minta balik," kata Yoyok yang menghadang mereka di perbatasan Trenggalek-Tulungagung.

Dia mengaku sudah mendengar kabar akan dilakukannya konvoi tersebut sejak beberapa waktu lalu. Karena itu, 200 anggota Banser disiagakan di ruas jalan antar kota, pusat keramaian, dan alun-alun kota. Mereka diperintahkan membubarkan setiap kegiatan HTI yang mengarah pada pendirian negara Islam dan mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kegiatan tersebut juga sudah dikoordinasikan dengan kepolisian dan TNI setempat agar tak terjadi kerusuhan. Bahkan dalam penghadangan tersebut anggota polisi dan TNI turut mengamankan mereka. "Semua kita koordinasikan dengan aparat," kata Yoyok.

Sedangkan Ketua Satkorcab Banser Trenggalek Fatkhur Rohman telah meminta Pemerintah Kabupaten Trenggalek dan aparat untuk menghentikan seluruh kegiatan HTI di Trenggalek yang bersifat makar. Surat itu bahkan sudah disampaikan sebelum diadakannya konvoi hari ini agar tak terjadi keributan. Namun faktanya aktivis HTI tetap ngotot melakukan konvoi.

Tidak ada pernyataan dari pihak HTI atas penghadangan itu. Mereka langsung membubarkan diri setelah sempat bersitegang dengan Banser.

HARI TRI WASONO

#KabarTrenggalek
#InfoTrenggalek

Sumber : https://nasional.tempo.co/read/news/2017/04/01/058861647/banser-nu-bubarkan-konvoi-hizbut-tahrir-indonesia

Senin, 27 Maret 2017

Soekarno dan Mbah Wahab Melawan Belanda dengan Kitab Fath Al-Qarib

Posted by Unknown On Senin, Maret 27, 2017

Setelah beberapa kali diadakan perundingan untuk menyelesaikan Irian Barat dan selalu gagal, Bung Karno menghubungi Kiai Wahab Hasbullah di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Bung Karno memanyakan bagaimana hukum orang-orang Belanda yang masih bercokol di Irian Barat?Kiai Wahab menjawab tegas,”Hukumnya sama dengan orang yangghasab.”“Apa artinya ghasab, kiai?” Tanya Bung Karno Ghasab itu istihqaqu maalil ghair bighairi idznihi. Artinya, menguasai hak milik orang lain tanpa izin,” terang Kiai Wahab.“Lalu bagaimana solusi menghadapi orang yang ghasab?“Adakan perdamaian,” tutur  Kiai Wahab. Lalu Bung Karno bertanya lagi,”Menurut insting Kiai, apakah jika diadakan perundingan damai akan berhasil?”“Tidak.”“Lalu, mengapai kita tidak potong kompas saja Kiai? Bung Karno sedikit memancing. “Tak boleh potong kompas dalam syariah,” kata Kiai Wahab. Selanjutnya Bung Karno mengutus Soebandrio mengadakan perundingan yang terakhir kali dengan Belanda untuk menyelesaikan konflik Irian Barat. Perundingan ini akhirnya gagal. Kegagalan ini disampaikan Bung Karno kepada Kiai Wahab.”Kiai, apa solui selanjutny menyelesaikan Irian Barat?”“Akhodzahu qohron (ambil dengan paksa!).” Kiai Wahab menjawab dengan tegas. “Apa rujukan Kiai memutuskan masalah ini?“Saya mengambil literatur Kitab Fath al-Qarib dan syarahnya (al-Baijuri).”Setelah itu, barulang Bung Karno membentuk barisan Trikora (Tiga Komando Rakyat). Kisah yang dinukilkan dari buku Karya Intelektual Ra’is Akbar dan Ra’is Aam al-Marhumien Pengurus Besar Nahdlatul Ulama karya KH A Aziz Masyhuri ini menunjukkan antaralain kontekstualisasi kitab kuning yang oleh sebagaian kalangan justru dianggap sebelah mata.


Sumber ; Muslim Moderat

Besok Tanggal 1 Rajab, yuk Berpuasa!!

Posted by Unknown On Senin, Maret 27, 2017

MusliModerat.net - Alhamdulillah besok kita memasuki bulan RajabRajab adalah bulan ke tujuh dari penggalan Islam qomariyah (hijriyah). Peristiwa Isra Mi’raj  Nabi Muhammad  shalallah ‘alaih wasallam  untuk menerima perintah salat lima waktu terjadi pada 27 Rajab ini.

Bulan Rajab juga merupakan salah satu bulan haram, artinya bulan yang dimuliakan. Dalam tradisi Islam dikenal ada empat  bulan haram, ketiganya secara berurutan  adalah: Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan satu bulan yang tersendiri,  Rajab

Dinamakan bulan haram karena pada bulan-bulan tersebut orang Islam dilarang mengadakan peperangan. Tentang bulan-bulan  ini, Al-Qur’an menjelaskan:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Hukum Puasa Rajab

Hadis-hadis Nabi yang menganjurkan atau memerintahkan berpuasa dalam bulan- bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab) itu cukup menjadi hujjah atau landasan mengenai keutamaan puasa di bulan Rajab

Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah bersabda "Puasalah pada bulan-bulan haram." (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad). Hadis lainnya adalah riwayat al-Nasa'i dan Abu Dawud (dan disahihkan oleh Ibnu Huzaimah): "Usamah berkata pada Nabi Muhammad Saw, “Wahai Rasulallah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya'ban. Rasul menjawab: 'Bulan Sya'ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.'"

Menurut as-Syaukani dalam Nailul Authar, dalam bahasan puasa sunnah, ungkapan Nabi, "Bulan Sya'ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan kebanyakan orang" itu secara implisit menunjukkan bahwa bulan Rajab juga disunnahkan melakukan puasa di dalamnya.

Keutamaan berpuasa pada bulan haram juga diriwayatkan dalam hadis sahih imam Muslim. Bahkan  berpuasa di dalam bulan-bulan mulia ini disebut Rasulullah sebagai puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan. Nabi bersabda : “Seutama-utama puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan-bulan al-muharram (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan  Rajab).

Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumid-Din menyatakan bahwa kesunnahan berpuasa menjadi lebih kuat jika dilaksanakan pada hari-hari utama (al-ayyam al-fadhilah). Hari- hari utama ini dapat ditemukan pada tiap tahun, tiap bulan dan tiap minggu. Terkait siklus bulanan ini Al-Ghazali menyatakan bahwa Rajab terkategorial-asyhur al-fadhilah di samping dzulhijjah, muharram dan sya’ban. Rajab juga terkategori al-asyhur al-hurum  di samping dzulqa’dah, dzul hijjah, dan muharram.

Disebutkan dalam  Kifayah al-Akhyar, bahwa bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadan adalah bulan- bulan haram yaitu dzulqa’dah, dzul hijjah, rajab dan  muharram. Di antara keempat bulan itu yang paling utama untuk puasa adalah bulan al-muharram, kemudian Sya’ban. Namun menurut Syaikh Al-Rayani, bulan puasa yang utama setelah al-Muharram adalah Rajab.

Terkait hukum puasa dan ibadah pada Rajab, Imam Al-Nawawi menyatakan, telah jelas dan shahih riwayat bahwa Rasul SAW menyukai puasa dan memperbanyak ibadah di bulan haram, dan Rajab adalah salah satu dari bulan haram, maka selama tak ada pelarangan khusus puasa dan ibadah di bulan Rajab, maka tak ada satu kekuatan untuk melarang puasaRajab dan ibadah lainnya di bulan Rajab” (Syarh Nawawi ‘ala Shahih Muslim).

Hadis Keutamaan Rajab

Berikut beberapa hadis yang menerangkan keutamaan dan kekhususan puasa  bulan Rajab 

• Diriwayatkan bahwa apabila Rasulullah SAW memasuki bulan Rajab beliau berdo’a:“Ya, Allah berkahilah kami di bulan Rajab (ini) dan (juga) Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.” (HR. Imam Ahmad, dari Anas bin Malik).

• "Barang siapa berpuasa pada bulan Rajab sehari, maka laksana ia puasa selama sebulan, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya 7 pintu neraka Jahim, bila puasa 8 hari maka dibukakan untuknya 8 pintu surga, dan bila puasa 10 hari maka digantilah dosa-dosanya dengan kebaikan."

• Riwayat al-Thabarani dari Sa'id bin Rasyid: “Barangsiapa berpuasa sehari di bulan Rajab, maka ia laksana  berpuasa setahun, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya pintu-pintu neraka jahanam, bila puasa 8 hari dibukakan untuknya 8 pintu surga, bila puasa 10 hari, Allah akan mengabulkan semua permintaannya....."

• "Sesungguhnya di surga terdapat sungai yang dinamakan Rajab, airnya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa puasa sehari pada bulan Rajab, maka ia akan dikaruniai minum dari sungai tersebut".

• Riwayat (secara mursal) Abul Fath dari al-Hasan, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Rajab itu bulannya Allah, Sya'ban bulanku, dan Ramadan bulannya umatku." 

• Sabda Rasulullah SAW lagi : “Pada malam mi’raj, saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya bertanya pada Jibril a.s.: “Wahai Jibril untuk siapakan sungai ini ?”Maka berkata Jibrilb a.s.: “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang yang membaca salawat untuk engkau di bulan Rajab ini”. (*)


Sumber : Moslem Moderat

Jumat, 24 Maret 2017

TABAYYUN SETELAH SIDANG KE-15 KASUS PENODAAN AGAMA

Posted by Unknown On Jumat, Maret 24, 2017
Oleh : Ahmad Ishomuddin

Beberapa waktu lalu saya diminta oleh penasehat hukum bapak BTP (Ahok) untuk menjadi saksi ahli atas kasus penodaan agama yang didakwakan kepadanya. Penasehat hukum dalam UU Advokat juga termasuk penegak hukum di negara konstitusi Republik Indonesia, sebagaimana dewan hakim dan para JPU (Jaksa Penuntut Umum). Karena kesadaran hukumlah saya bersedia hadir dan menjadi saksi ahli dalam sidang ke-15.

Saya menyadari betul dan sudah siap mental menghadapi resiko apa pun, termasuk mempertaruhkan jabatan saya yang sejak dulu saya tidak pernah memintanya, yakni baik sebagai Rais Syuriah PBNU (periode 2010-2015 dan 2015-2020) maupun Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat (2015-2020), demi turut serta menegakkan keadilan itu. Sebab, sepertinya umat Islam sudah lelah dan kehabisan energi karena terlalu lama mempersengketakan kasus pak BTP (Ahok). Sebagian umat yakin ia pasti bersalah dan sebagian lagi menyatakan belum tentu bersalah menistakan Qs. al-Maidah ayat 51.

Oleh sebab itu, persengketaan dan perselisihan tersebut segera diselesaikan di pengadilan, agar di negara hukum kita tidak memutuskan hukum sendiri-sendiri. Saya hadir, sekali lagi saya nyatakan, di persidangan karena diminta dan karena ingin turut serta terlibat untuk menyelesaikan konflik seadil-adilnya di hadapan dewan hakim yang terhormat.

Saya hadir di persidangan bukan atas nama PBNU, MUI, maupun IAIN Raden Intan Lampung, melainkan sebagai pribadi. Tidak mewakili PBNU dan MUI karena sudah ada yang mewakilinya. Saya bersedia menjadi saksi ahli pada saat banyak orang yang diminta menjadi saksi ahli pihak pak BTP berpikir-pikir ulang dan merasa takut ancaman demi menegakkan keadilan. Dalam hal ini saya berupaya menolong para hakim agar tidak menjatuhkan vonis kepadanya secara tidak adil (zalim), yakni menghukum orang yang tidak bersalah dan membebaskan orang yang salah. Tentu karena saya juga berharap agar seluruh rakyat Indonesia tenang dan tidak terus menerus gaduh apa pun alasannya hingga vonis dewan hakim diberlakukan. Rakyat harus menerima keputusan hakim agar tidak ada lagi anak bangsa ini main hakim sendiri di negara hukum.

Saya hadir sebagai saksi ahli agama karena dinilai ahli oleh para penasehat hukum terdakwa, dan di muka persidangan saya tidak mengaku sebagai ahli tafsir, melainkan fiqih dan ushul al-fiqh. Suatu ilmu yang sudah sejak lama saya tekuni dan saya ajarkan kepada para penuntut ilmu. Namun, itu bukan berarti saya buta dan tidak mengerti sama sekali dengan kitab-kitab tafsir. Alhamdulillah, saya dianugerahi oleh Allah kenikmatan besar untuk mampu membaca dan memahami dengan baik berbagai referensi agama seperti kitab-kitab tafsir berbahasa Arab, bukan dari buku-buku terjemahan. Semua itu adalah karena barakah dan sebab doa dari orang tua dan para kyai saya di berbagai pondok pesantren.

Saat saya ditanya tentang pendidikan terakhir saya oleh ketua majelis hakim, saya menjawab bahwa pendidikan formal terakhir saya adalah Strata 2 konsentrasi Syari'ah. Saya memang belum bergelar Doktor, meski saya pernah kuliah hingga semester 3 di program S-3 dan tinggal menyusun disertasi namun sengaja tidak saya selesaikan. Jika ada yang menyebut saya Doktor saya jujur dengan mengklarifikasinya, sebagaimana saat orang menyebut saya haji, karena benar saya belum haji. Bagaimana saya mampu berhaji, saya miskin dan banyak orang yang tahu bahwa bahwa saya sekeluarga hidup sederhana di rumah kontrakan yang sempit. Namun sungguh saya tidak bermaksud melakukan pembohongan publik. Saya yakin sepenuhnya bahwa penguasaan ilmu dan kemuliaan itu adalah diberikan oleh Allah kepada para hamba yang dikehendaki-Nya dan karenanya saya tidak pernah merendahkan siapa saja. Titel kesarjanaan, gelar panggilan kyai haji, dan pangkat bagi saya bukanlah segalanya. Saya berusaha menghormati siapa saja yang menjaga kehormatannya. Bagi saya berbeda pendapat adalah biasa dan wajar saja dan karenanya saya tetap menaruh hormat kepada siapa saja yang berbeda dari saya, terutama kepada orang yang lebih tua, lebih-lebih kepada para kyai sepuh.

Dalam persidangan ke-15 itu tentulah saya menjawab dengan benar, jujur, tanpa sedikitpun kebohongan, di bawah sumpah semua pertanyaan yang diajukan, baik oleh Majelis Hakim, para Penasehat Hukum, maupun para para Jaksa Penuntut Umum (JPU). Apabila para saksi, baik saksi fakta maupun saksi ahli, yang diajukan JPU lebih bersifat memberatkan terdakwa karena yakin akan kesalahannya, maka saya sebagai saksi ahli agama yang diajukan oleh para Penasehat Hukum bersifat meringankannya, selanjutnya nanti majelis hakimlah yang akan memutuskannya. Kesaksian itu saya berikan berdasarkan ilmu, sama sekali bukan karena dorongan hawa nafsu seperti karena ingin popularitas, karena uang dan atau keuntungan duniawi lainnya. Sungguh tidaklah adil dan bertentangan dengan konstitusi jika saya disesalkan, dilarang, dimaki-maki, diancam dan bahkan difitnah karena kesaksian saya itu, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Sangat disesalkan bahwa gelombang fitnah dan teror telah menimpa saya, terutama di media sosial yang kebanyakan ditulis dan dikomentari tanpa tabayyun. Berita yang beredar tentang diri saya dari sisi-sisi yang tidak benar langsung dipercaya dan segera terburu-buru disebarluaskan. Di antaranya berita bahwa saya menyatakan bahwa Qs. al-Maidah ayat 51 tidak berlaku lagi, tidak relevan, atau expaired. Berita itu berita bohong (hoax). Yang benar adalah bahwa saya mengatakan bahwa konteks ayat tersebut dilihat dari sabab an-nuzulnya terkait larangan bagi orang beriman agar tidak berteman setia dengan orang Yahudi dan Nasrani karena mereka memusuhi Nabi, para sahabatnya, dan mengingkari ajarannya. Ayat tersebut pada masa itu tidak ada kaitannya dengan pemilihan pemimpin, apalagi pemilihan gubernur. Adapun kini terkait pilihan politik ada kebebasan memilih, dan jika berbeda hendaklah saling menghormati dan tidak perlu memaksakan pendapat dan tidak usah saling menghujat. Kata " awliya' " yang disebut dua kali dalam ayat tersebut jelas terkategori musytarak, memiliki banyak arti/makna, sehingga tidak monotafsir, tetapi multi tafsir. Pernyataan saya tersebut saya kemukakan setelah meriset dengan cermat sekitar 30 kitab tafsir, dari yang paling klasik hingga yang paling kontemporer.

Saya sangat mendambakan dan mencintai keadilan. Oleh sebab itu, setiap ada berita penting menyangkut siapa saja, baik muslim maupun non muslim, lebih-lebih jika menyangkut masa depan dan menentukan baik-buruk nasibnya, maka jangan tergesa-gesa di percaya. Untuk menilai secara adil dan menghindarkan kezaliman menimpa siapa pun maka berita itu harus diteliti benar tidaknya dengan hati-hati, wajib dilakukan tabayyun (klarifikasi) kepada pelakunya atau ditanyakan kepada warga di tempat kejadian perkara.

Dalam hal terkait pak BTP (Ahok) saya tahu bahwa dalam mengeluarkan sikap keagamaan yang menghebohkan itu MUI Pusat tidak melakukan tabayyun (klarifikasi) terlebih dahulu, baik terutama kepada pak BTP (Ahok) maupun langsung kepada sebagian penduduk kepulauan Seribu, karena MUI Pusat merasa yakin dengan mencukupkan diri dengan hanya menonton video terkait dan memutuskan Ahok bersalah menistakan al-Qur'an dan Ulama. Padahal dalam al-Qur'an diperintahkan agar umat Islam bersikap adil dan sebaliknya dilarang zalim, kepada siapa saja meskipun terhadap orang yang dibenci. Maka janganlah berlebihan dalam hal apa saja, termasuk jangan membenci berlebihan hingga hilang rasa keadilan.

Bila kemudian saya menyatakan pendapat yang berbeda dengan Ketua Umum MUI (KH. Ma'ruf Amin) sebagai saksi fakta dan Wakil Rais Aam PBNU (KH. Miftahul Akhyar) sebagai saksi ahli agama di sidang pengadilan itu, maka itu hal biasa, wajar, dan hal yang lazim saja. Bagi saya berbeda pendapat itu tidak menafikan penghormatan saya kepada dua kyai besar tersebut. Dalam hal yang didasari oleh ilmu, bukan hawa nafsu, berbeda itu biasa dan merupakan sesuatu yang berbeda dari persoalan penghormatan. Sebagai muslim saya terus memerangi nafsu untuk bersikap tawadlu' (rendah hati) sepanjang hayat.

Terhadap setiap pujian kepada saya, saya tidak bangga dan saya kembalikan kepada pemilik semua pujian yang sesungguhnya, Allah ta'ala. Sebaliknya, terhadap caci maki, celaan, fitnah dan apa saja yang menyakiti hati saya tidak kecewa dan tidak takut, karena saya menyadari keberadaan para pencaci di dunia yang sementara ini. Saya harus berani menyampaikan apa yang menurut ilmu benar. Rasanya percuma hidup sekali tanpa keberanian, dan menjadi pengecut. Kebenaran wajib disampaikan, betapa pun pahitnya.

Hanya kepada Allah saya mohon petunjuk dan perlindungan. Semoga kita dijauhkan dari kezaliman, kejahatan syetan (jenis manusia dan jin), dan dijauhkan dari memperturutkan hawa nafsu.


Kamis, 23 Maret 2017

BHAKTI SOSIAL ~ Satkoryon Banser Panggul

Posted by Unknown On Kamis, Maret 23, 2017
BanserNews ~ Panggul, 24 Maret 2017 Satkoryon Banser Panggul mengadakan kegiatan Bhakti Sosial. Sasaran kegiatan ini adalah Pembangunan Mushola yang berada di Dusun Nanggungan, Desa Kertosono, Kecamatan Panggul. 

Anggota Banser yang terlibat dalam bhakti sosial ini adalah anggota Banser yang berasal dari Satkorkel Tangkil, Manggis, Sawahan dan Kertosono. Sekitar 50 anggota Banser "Guyub Rukun" bekerjasama dalam pembangunan mushola yang berlokasi di Dusun Nanggungan tersebut.

Kegiatan ini rutin dilakukan oleh Gerakan Pemuda Ansor dan Satkoryon Banser Panggul sebagai upaya pengabdian terhadap masyarakat dan bhakti untuk negeri. (Author : Myanto)



Kontributor : Gus Imam Wardy

BEDAH RUMAH ~ Satkoryon Banser Dongko

Posted by Unknown On Kamis, Maret 23, 2017
BanserNews ~ Pringapus, 24 Maret 2017 Satuan Koordinasi Rayon Barisan Ansor Serbaguna (Satkoryon Banser) Dongko Kabupaten Trenggalek mengadakan kegiatan Bhakti Sosial. Kegiatan ini menitik fokuskan pada kegiatan "BEDAH RUMAH" salah satu warga yang berada di Desa Pringapus Kecamatan Dongko. 

Hal ini dikandung maksud sebagai upaya Banser untuk peduli sesama dan bhakti negeri. Selain daripada itu, adalah sebagai Rencana Tindak Lanjut (RTL) dari kegiatan Diklatsar VIII yang dilaksanakan pada tanggal 17-19 Maret 2017 kemarin.

Kegiatan Bedah Rumah pada hari ini (Jum'at; red) berlokasi di Dusun Dawung Desa Pringapus yang merupakan rumah salah satu warga masyarakat setempat. Beliau adalah Mbah Paikem, seorang perempuan lanjut usia dan salah satu keluarga kurang mampu yang ada di Desa Pringapus. 

Unsut/Komponen yang terlibat pada kegiatan Bedah Rumah meliputi; Gerakan Pemuda Ansor dan Banser Anak Cabang Dongko, BAZNAS Trenggalek, Komunitas Peduli Sesama, Polsek Dongko, Koramil Dongko,Pemerintah Desa Pringapus dan masyarakat sekitar.

Adapun rinciannya personel setiap unsur yang terlibat adalah :
40 anggota Ansor/Banser, 30 anggota Komunitas Peduli Sesama, 10 anggota Polsek Dongko, 10 anggota Koramil Dongko, 10 pejabat Pemerintah Desa Prigapus dan 20 warga masyarakat sekitar.

Direncanakan peletakan batu pertama dilakukan secara Simbolis oleh Bapak Wakil Bupati Trenggalek dan Ketua BAZNAS Kabupaten Trenggalek. (Author : Myanto)


Kontributor : Imam Ropingi, S.Pd.I (Ketua PAC GP Ansor Dongko)

Foto/Dokumentasi selengkapnya dapat dilihat DISINI!

Belajar dari Tiga Binatang yang Disebut Al-Qur'an

Posted by Unknown On Kamis, Maret 23, 2017
Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا حَمْدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ



Jamaah shalat jum’at rahimakumullah,

Setidaknya ada tiga binatang kecil menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Qur’an, yaitu Al-Naml (semut), Al-'Ankabut (laba-laba), dan Al-Nahl (lebah). Bila kita amati secara seksama, masing-masing binatang ini memiliki karakter khas yang bisa menjadi kiasan dari kehidupan manusia.

Semut menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa henti-hentinya. Konon, binatang kecil ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun sedangkan usianya tidak lebih dari satu tahun. Kelobaannya sedemikian besar sehingga ia berusaha–dan seringkali berhasil–memikul sesuatu yang lebih besar dari badannya, meskipun sesuatu tersebut tidak berguna baginya.

Dalam surah Al-Naml antara lain diuraikan sikap Fir'aun, juga Nabi Sulaiman yang memiliki kekuasaan yang tidak dimiliki oleh manusia mana pun sebelum dan sesudahnya. Ada juga kisah seorang raja wanita yang berusaha menyogok Nabi Sulaiman demi mempertahankan kekuasaan yang dimilikinya.

Lain lagi uraian Al-Quran tentang laba-laba: Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh. Sebagaimana disinggung oleh surah Al-Ankabut ayat 41:


مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.”

Rumah laba-laba bukan tempat yang aman, apa pun yang berlindung di sana atau disergapnya akan binasa. Jangankan serangga yang tidak sejenis, jantannya pun setelah selesai berhubungan seks disergapnya untuk dimusnahkan oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan sehingga dapat saling memusnahkan. Demikianlah kata sebagian ahli. Sebuah gambaran yang sangat mengerikan dari sejenis binatang.

Jamaah shalat jum’at rahimakumullah,

Lantas bagaimana dengan lebah? Al-Qur’an memiliki insting yang—dalam bahasa Al-Quran lebah bergerak atas atas ilham dari Tuhan sehingga ia mampu memilih memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal.


وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

Artinya: “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia’." (QS An-Nahl: 68)

Sarang lebah dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar tidak terjadi pemborosan dalam lokasi. Yang dimakannya adalah kembang-kembang yang tidak seperti semut yang menumpuk-numpuk makanannya, lebah mengolah makanannya dan hasil olahannya adalah lilin dan madu yang sangat bermanfaat bagi manusia. Lilin digunakan untuk penerang dan madu—kata Al-Quran—dapat menjadi obat yang menyembuhkan. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, dan segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu kecuali yang mengganggunya, bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat.

Jamaah shalat jum’at rahimakumullah,

Sikap hidup manusia seringkali diibaratkan dengan berbagai jenis binatang. Jelas ada manusia yang "berbudaya semut", yaitu menghimpun dan menumpuk ilmu (tanpa mengolahnya) dan materi atau harta benda (tanpa disesuaikan dengan kebutuhannya). Budaya semut adalah "budaya menumpuk" yang disuburkan oleh "budaya mumpung". Tidak sedikit problem masyarakat bersumber dari budaya tersebut. Pemborosan adalah anak kandung budaya ini yang mendorong hadirnya benda-benda baru yang tidak dibutuhkan dan tersingkirnya benda-benda lama yang masih cukup indah untuk dipandang dan bermanfaat untuk digunakan. Dapat dipastikan bahwa dalam masyarakat kita, banyak sekali semut yang berkeliaran.

Entah berapa banyak jumlah laba-laba yang ada di sekitar kita, yaitu mereka yang tidak lagi butuh berpikir apa, di mana, dan kapan ia makan, tetapi yang mereka pikirkan adalah "siapa yang akan mereka jadikan mangsa. Ia menjadi kiasan dari sifat manusia mencelakakan, dan rumah/lembaganya yang menjadi pelindungnya menjerumuskan siapa saja yang terpikat olehnya.

Jamaah shalat jum’at rahimakumullah,

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengibaratkan seorang Mukmin sebagai lebah, sesuatu yang tidak merusak dan tidak pula menyakitkan: Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya.

Lebih rinci lagi, lebah setidaknya memiliki tiga keistimewaan yang dapat menjadi analogi tentang karakter ideal manusia. Pertama, lebah tak merusak ranting yang ia hinggapi, sekecil apa pun pohon tersebut. Hal ini memberi pelajaran manusia agar menghindari berlaku yang menimbulkan mudarat atau kerugian terhadap orang lain. Lebah memang datang untuk makan, tapi ia tak ingin merusak untuk kepentingannya pribadinya itu. Bahkan kerap kali lebah justri berjasa dalam proses penyerbukan sebuah bunga yang ia hinggapi.

Kedua, lebah makan sesuatu yang baik-baik, yakni saripati bunga, sehingga yang dikeluarkannya pun baik-baik, yakni madu. Manusia dituntut dalam kehidupan yang serba halal. Rezeki yang halal akan membuahkan perilaku yang positif .

Khatib berwasiat kepada diri sendiri dan  jamaah shalat jum’at untuk senantiasa membersihkan jiwa dari kotoran tamak, keji, dan tak peduli orang lain.


باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ.  إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ


Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Alif Budi Luhur

* Mayoritas isi materi khutbah ini mengutip tulisan M. Quraish Shihab, Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan, 2007 (Bandung: Mizan). 


Sumber : NU Online
“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.S. Luqman: 34)

Masehi Hijriyah